Langsung ke konten utama

Spanyol vs Argentina: Ketika Piala Dunia Menjadi Arena Pertarungan Kelas


oleh : Fardin M Lanco

Dalam perspektif Karl Marx, masyarakat modern terbagi ke dalam dua kelas besar, yakni kelas borjuis sebagai pemilik modal dan kelas proletariat sebagai kelas pekerja. Jika kerangka berpikir ini digunakan sebagai pisau analisis untuk membaca final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, maka pertandingan tersebut tidak lagi sekadar menjadi duel dua negara, melainkan juga dapat dibaca sebagai pertarungan simbolik antara logika modal dan logika perjuangan. Di ruang publik, dukungan masyarakat seolah terbelah dalam dua cara pandang yang berbeda.

Di satu sisi, Spanyol hadir sebagai representasi kekuatan modal dalam sepak bola modern. Akademi pemain yang mapan, kualitas liga domestik, kedalaman skuad, hingga sistem pembinaan yang terstruktur menjadikan Spanyol sebagai tim yang secara rasional lebih diunggulkan. Logika inilah yang bekerja dalam kapitalisme modern, termasuk dalam industri taruhan olahraga, yang menempatkan probabilitas kemenangan sebagai dasar memperoleh keuntungan material. Semakin besar peluang kemenangan Spanyol, semakin besar pula kecenderungan para pelaku industri taruhan dan mereka yang berpikir dengan kalkulasi ekonomi untuk menjadikan Spanyol sebagai pilihan utama. Dalam pembacaan ini, Spanyol menjadi simbol kekuatan sistem, modal, dan efisiensi.

Di sisi lain, Argentina menawarkan narasi yang berbeda. Dukungan terhadap Argentina lebih banyak dibangun atas dasar fanatisme, romantisme sejarah, dan keyakinan bahwa sepak bola bukan semata-mata persoalan modal, melainkan juga perjuangan. Sosok Lionel Messi, sebagaimana sebelumnya Diego Maradona, telah menjelma menjadi simbol harapan bahwa kerja keras, ketekunan, dan bakat mampu menandingi dominasi kekuatan yang lebih mapan. Karena itu, bagi banyak pendukungnya, membela Argentina bukan sekadar memilih tim yang berpeluang menang, melainkan mempertahankan sebuah kisah perjuangan yang melampaui hitung-hitungan statistik maupun keuntungan material.

Melalui sudut pandang tersebut, final Piala Dunia 2026 dapat dibaca sebagai benturan dua narasi besar. Spanyol merepresentasikan kekuatan modal, sistem, dan rasionalitas kapitalisme, sedangkan Argentina menjadi simbol perlawanan dan romantisme, 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menteladani Sikap Kritis Guru Tua sebagai Penangkal Radikalisme dan Ekstrimisme

Oleh : MRT Guru Tua begitulah sapaan akrab para masyarakat lembah palu memanggil Sayid Idrus Bin Salim Aljufri. Beliau adalah termaksud ulama di kalangan hadrami yang memilih Indonesia untuk menyebarkan Agama Islam. Banyak yang tahu bahwa Guru Tua hanya sebagai tenaga pendidik yang modern pada saat itu, namun Guru Tua tidak hanya sebagai tenaga pendidik. Guru Tua juga terlibat Aktif dalam perpolitikan Indonesia baik di tingkat Lokal maupun Nasional. Sikap politik Guru Tua bukan bersifat praktis ataupun pragmatis namun sikap Politik Guru Tua lebih bersifat Ideologi. Keterlibatan Guru Tua dalam perpolitik sudah jauh beliau lakukan sebelum datang di Indonesia, ini terlihat dari sikap Guru Tua menentang kolonialisme dari kerajaan Britania Raya. Aktivitas politik Guru Tua pada saat itu  untuk mencari dukungan negara-negara tetangga yang mayoritas muslim bersama sahabatnya Sayed Abdurahman guna ingin melepaskan diri dari penjajahan Britania Raya dan memerdekakan tanah kelahir...