Niccolo Machiavelli lahir pada tahun 1469 di italia, berkarir di pemerintahan selama masa dewasanya, ia berkerja sebagai diplomatic berkunjung ke beberapa Negara dan mengamati kepemimpinan banyak penguasa dan ini menjadi cikal bakal penulisan buku il principe.
Pandangan – pandangan politik Machiavelli dalam buku il principe sebagai berikut :
Menurut N. Machiavelli membagi dua wilayah kekuasaan dalam semua Negara, berbentuk Republik dan Kerajaan akan tetapi di dalam buku il principe Machiavelli banyak membahas Negara kerajaan bagaimana di bentuk dan bagaimana mempertahankannya.
Dalam Negara kerajaan N. Machiavelli membaginya atas, kerajaan warisan dan kerajaan gabungan. Kerajaan warisan menurut N. Machiavelli ialah kerajan yang turun temurun Negara – Negara yang di perintah oleh penguasa dari keluarga nenek moyang penguasa sebelumnya, dengan raja yang berusaha keras ia akan selalu mempertahankan kekuasaannya, yang berikutnya ialah kerajaan gabungan, N. Machiavelli mengambarkan kerajaan gabungan adalah mengambungkan kerajaan yang lama dan kerajaan yang baru, untuk mengambungkan kerajaan ini penguasa harus menduduki wilayah – wilayah baru, akan tetapi untuk menghindari pemberontakan penguasa harus tinggal di wilayah baru setelah ia menguasainya atau dengan cara lain ialah mendirikan koloni – koloni yang seolah – olah menjadi kunci wilayah tersebut atau tidak dengan mendirikan koloni penguasa bisa menempatkan sejumlah besar infantry di wilayah – wilayah baru itu dan melakukan pemaksaan kepada rakyat untuk tunduk terhadap penguasa baru, dengan menerapkan hukum – hukum yang baru, dalam pembentukan wilayah baru ini penguasa merampas rumah dan tanah rakyat dan di berikannya kepada penghuni baru, agar tidak menimbulkan kekacauan penguasa harus memberikan rasa sakit yang besar terhadap rakyatnya, jika hanya sakit yang kecil mereka akan dapat membalas dendam sebaliknya jika rasa sakit yang besar/menghancurkannya mereka tidak akan dapat untuk membalas dendam atau melakukan pemberontakan.
Menurut N. Machiavelli untuk mempertankan kekuasaan di Negara baru kerajaan harus di perintah oleh seorang raja dan para pembantunya yang merupakan menteri – menterinya atas restu dan persetujuan raja. Atau di atur oleh raja dan para bangsawan dimana para bangsawan ini memiliki wilayah – wilayah kekuasan dan rakyat sendiri yang mengakui sebagai penguasa dan mencintai mereka. Di dalam Negara yang di perintah oleh raja dan pembantunya, raja memiliki wewenang yang lebih besar karena di seluruh Negara hanya rajalah yang diakui dan berhak menerima tanda kecintaan khusus dari rakyat. Dan wilayah – wilayah yang baru direbut dengan kehidupan bebas dan memiliki hukum aturan tersendiri ada tiga cara yang perlu di lakukan oleh penguasa untuk memerintahnya dengan aman:
Menghancurkannya
Raja harus bermukim di wilayah tersebut, dan
Mendirikan oligarki
Menurut N. Machiavelli untuk merebut wilayah – wilayah baru harus mengandalkan kemampuan sendiri dan kekuatan senjata bukan pada nasib mujur, dengan mendapatkan wilayah – wilayah atas kekuatan sendiri raja akan menjadi pahlawan dan menjadikan rakyat menjadi pengikut setia raja, contoh yang diberikan N. Machiavelli adalah Hiero dari Syracuse, dari seorang warga Negara biasa, ia menjadi penguasa di Syracuse. Hiero tidak mendapatkan nasib mujur kecuali kerja keras dan peluang sehingga orang – orang Syracuse memilihnya untuk memimpin pasukan ketika mereka dalam keadaan terdesak, dan kemudian hiero mendapatkan hak untuk menjadi raja rakyat Syracuse. Raja yang menjadi penguasa di wilayah – wilayahnya karena nasib mujur akan sulit untuk mempertahankan kekuasaannya, karena raja mendapatkanya kedudukannya karena uang atau kebaikan hati seseorang yang memberikannya.
Karena menurut Machiavelli untuk dapat menjadi penguasa kerajaan harus dengan cara jahat dan keji, membunuh sesama warga kota, menghianati sahabat, bertindak licik, tanpa belas kasihan, tindakan yang tidak religius, ini akan menjadikan seorang raja berkuasa akan tetapi tidak menjadikannya terhormat. Dan untuk merebut suatu Negara penguasa harus memberikan penderitaan yang berat kepada rakyat tapi cukup sekali dan rakyat akan melupakannya, jangan mengulang – ulang penderitaan itu, bagi penguasa yang memberikan penderitaan berulang – ulang akan menjadikan rakyat tidak akan merasa aman dan akan memicu pemberontakan.
N. Machiavelli juga mengemukakan bahwa rakyat biasa bisa menjadi penguasa bukan dengan jalan kekejaman dan keji akan tetapi karena jasa baik sesama rakyat, N. Machiavelli menyebutkannya kekuasaan konstitusional. Raja yang mendapatkan kekuasaan atas konstitusional karena mendapatkan dukungan rakyat atau karena dukungan sekolompok bangsawan, dua kelas masyarakat ini selalu ada dalam setiap kota. Dua kelas ini selalu bertentangan rakyat yang takut dan cemas akan di perintah dan tindas oleh para bangsawan sedangkan para bangsawan siap untuk memerintah dan menindas, rakyat yang takut akan hal itu akan mengangkat seorang untuk menjadikannya raja agar mereka dilindungi oleh kekuasaan raja tersebut.
Dalam buku il principe N. Machiavelli juga membahas relasi agama dan Negara, machiavelli menoleh pada masa silam karena mengigatkan pada reformasi agama untuk masyarakat italia waktu itu, yang menerut Machiavelli merupakan suatu bangsa yang sedang mengalami kemorosotan moral, dan kemorosotan moral bangsa merupakan benih – benih kehancuran bangsa italia. Kemorosotan moral ini dipicu oleh pangeran – pangeran gereja yang menyebabkan desintegrasi public, skandal dan korupsi dalam birokrasi gereja menimbulkan kekacaun dalam kehidupan beragama, bagaimana mungkin patrioisme muncul jika para pemuka agama memberikan teladan yang jelek oleh sebab itu dalam mempertahankan kekuasaan Negara, agama harus patuh terhadap Negara. Agama harus menjadi sarana untuk meningkatkan semangat patriosme, agama hanya sarana – sarana atau alat – alat yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga tata tertib yang berlaku. Menurut Frederick mayer gagasan – gagasan Machiavelli tentang agama tidak akan membuat kita berfikir bahwa Machiavelli adalah atheism, Machiavelli tetap percaya adanya tuhan akan tetapi pandangan – pandangannya bercorak faham sekulerisme.
Menurut N. Machiavelli wilayah – wilayah lama, baru maupun campuran dasarnya adalah hukum dan militer/pasukan yang baik, penguasa untuk mempertahankan atau merebut wilayah – wilayah harus memiliki landasan militer yang kuat baik itu militer milik penguasa, militer bayaran, militer bantuan atau gabungan dari macam – macam militer tersebut.
Militer bayaran dan bantuan menurut N. Machiavelli sangat berbahaya dalam mempertahankan Negara, karena militer bayaran sifatnya tidak pernah bisa disatukan, haus akan kekuasaan, tidak disiplin dan tidak setia. Militer bayaran tidak memiliki jiwa patriot, jika dalam masa tenang peperangan mereka dapat mengacaukan Negara, dan jika dalam masa peperangan musuh dapat mengacaukan Negara karena sifat ketidaksetiaan dan tidak bertanggung jawabnya militer bayaran ini. Menurut N Machiavelli kehancuran italia ini disebabkan militer bayaran. Militer bayaran ini juga bisa menjadi berputar arah dukungannya dan malah menunduhkan raja dan merebut wilayah – wilayah kekuasaan raja, N Machiavelli mencontohkan Negara Sparta dan roma bertahan lama karena memiliki militer sendiri.
Jika Negara tetangga membantu dalam mempertahankan wilayah dengan pasukannya N Machiavelli menyebutnya militer bantuan dan militer ini sama tidak bergunanya dengan pasukan bayaran, karena jika dalam peperangan meraih kemenangan maka raja akan menjadi tawanan bagi penguasa yang memberikan militer bantuan. Karena militer bantuan ini merupakan suatu pasukan yang terpadu taat sepenuhnya pada perintah seorang yang lain. Jika pasukan bayaran bisa dipimpin oleh yang tunjuk raja dan mengaji militer bayaran akan tetapi sifat pengecut merupakan bahaya militer bayaran, dan keberanian merupakan bahaya yang datang dari pasukan bantuan.
Olehnya N Machiavelli menganjurkan raja yang bijaksana harus menghindari dari dua jenis pasukan ini, dan harus menggunakan pasukannya sendiri, mereka lebih suka kalah daripada menang dengan bantuan orang lain, karena tidak ada kemenangan sejati yang dapat dicapai dengan bantuan militer asing. Raja hendaknya tidak memiliki kesibukan lain selain mempelajari perang dan organisasi karena itu satu – satunya seni dalam memimpin, oleh karena itu seorang raja tidak boleh sekejap pun melepaskan perhatiannya pada latihan perang yang dilakukan secara sungguh – sungguh dalam masa damai. Raja juga harus melatih fisiknya agar tetap bugar dengan cara berburuh sekaligus mempelajari lingkungan alam yang praktis seperti lereng gunung , lembah yang terbuka dan daratan yang membentang luas, raja harus menyelidiki sungai dan rawa – rawa dan dalam semua hal raja harus berusaha keras. Dengan mempelajari lingkungan alam raja dapat mengetahui bagaimana ia harus mengatur pertahanan.
Seorang raja tentunya ingin dihormati karena sikap penuh belas kasih daripada sikap kejam, akan tetapi raja harus lebih berhati – hati/waspada sehingga tidak mengunakan secara salah sikap belas kasihnya, timbul pertanyaan apakah raja lebih baik dicintai atau ditakuti atau sebaliknya, jawabnya ialah semua raja tentunya mengiginkan keduanya, baik di cintai maupun di takuti, akan tetapi sulit untuk menyatukan keduanya, raja lebih baik ditakuti daripada dicintai, N Machiavelli berpandangan bahwa manusia dalah mahluk yang tidak tau berterimah kasih mudah berubah sikap (plin – plan) penipu dan pembohong, takut menghadapi bahaya dan rakus mencari keuntungan sendiri, jika bahaya belum datang tentunya mereka menjadi pengikut setia raja, akan tetpai jika bahaya datang menghampiri mereka akan balik melawan anda, karena itu raja harus membuat dirinya ditakuti sedemikian rupa sehingga jika ia tidak dicintai rakyatnya ia pun tidak dibenci. Untuk menghindari kebencian raja harus menjauhkan diri dari harta – harta dan istri – istri mereka, seandainya ada alasan untuk menghukum seseorang raja harus memiliki bukti yang kuat untuk menghukum, dan lebih – lebih raja harus benar – benar menjauhkan diri dari harta milik orang lain karena seseorang dapat dengan mudah melupakan leluhurnya daripad melupakan atau kehilangan harta warisan leluhurnya. Namun kalau raja berperang dengan pasukannya raja tidak perlu takut disebut kejam, karena dengan kekejaman itu raja dapat menyatukan/mengatur pasukan – pasukannya. Karena manusia tidak segan – segan membelah orang yang mereka takuti disbanding yang mereka cintai. Karena cinta diikat oleh rantai kewajiban, pada saat manusia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya rantai itu akan putus sebaliknya rasa takut tidak akan pernah gagal.
N Machiavelli berpandangan bahwa raja harus memilih menterinya dengan baik, dan menyingkirkan para penjilat di istana yang menguntungkan diri sendiri dan tidak peduli pada keingginan raja.
Dalam buku ini juga N Machiavelli bagaimana seorang raja harus menyatukan italia, hal pertama ialah bagaimana menghimpun pasukan sendiri, karena tidak ada pasukan lebih setia, lebih sejati, lebih baik daripada pasukan sendiri. Karena itu sangat penting italia memiliki militer seperti ini agar dapat mempertahankan diri dari serangan bangsa asing dengan menggunakan kekuatan sendiri.
Penutup
Dalam buku il principe N. Machiavelli mendedikasikan bukunya untuk Lorenzo de medici , pemimpin keluarga yang menggulingkan pemerintah Macheavlli berkerja, dalam menulis buku ini N Machiavelli mengunakan contoh – contoh dari sejarah untuk mengilustrasikan bebrbagai jenis penguasa, N machavelli menawarkan saran bagaimana seorang raja dapat mempertahankan dan memperoleh kekuasaan mereka. N Machiavelli percaya bahwa militer memainkan peran penting dalam mempertahankan kekuatan. Dalam ini juga N Machiavelli menyakini sbagaimana penguasa sejarah berhasil dengan melakukan tindakan atau sifat – sifat bermoral maupun tidak bermoral dalam merebut dan mempertahankan kekuasaannya. Machiavelli juga percaya bahwa bahwa tindakan jahat menjadi penting untuk kelangsungan hidup sebuah Negara.
Ada begitu banyak kritik yang di tunjukan kepada N Machiavelli terutama ratu inggris Elizabeth yang mengutuknya sebagia orang yang benar – benar jahat. Frederick dari prusia dalam bukunya anti – machiavel ia menyebut N Machiavelli sebagai monster yang dengan bukunya mencoba menghancurkan umat manusia. Leo strauss percaya semua retorika dari penelitian Machiavelli saat ini menyamakan dengan patriot dan ilmuan hanya berfungsi untuk menggaburkan masalah yang sebenarnya dari apa yang Machiavelli tulis, leo berpendapat bahwa Machiavelli ada guru kejahatan dan karena itu ia adalah orang jahat.
Menurut Sydney anglo bahwa N Machiavelli hanya punya satu tujuan dalam menulis il principe yaitu untuk mendapatkan pekerjaan untuk dirinya sendiri di pemerintahan medici, Machiavelli berharapa medici terkesan dengan pengetahuna politiknya sehingga mereka akan dengan penuh semangat memintahnya datang berkerja untuk mereka. Akan tetapi ada pandangan berbeda dari beberpa tokoh yang mengkritik N Machiavelli sebut saja Philip kain yang memandang niat Machiavelli penuh dengan kebaikan yang lebih besar, philp kain sangat percaya bahwa N Machiavelli berharap nasihatnya dapat di terima dan membantu membebaskan italia dari dominasi asing. Hurbert butterfieild menginterpertasikan tujuan di balik tulisan N Machiavelli sebagai metode untuk menawarkan pendekatan yang lebih ilmiah terhadap praktik politik, H butterfeild mengkalim bahwa Machiavelli dapat melihat perlunya ada perubahan dalam cara yang dijalankan Negara – Negara terutama mengingat banyaknya masalah yang dihadapi pemerintahnya sendiri, tanpa niat egois ia hanya ingin mengubah cara politik yang dipraktekan pada saat di zamannya. McDonald mengambil posisi yang cukup netral dalam mengambarkan kekejaman dan kekerasan Machiavelli dalam buku il principe, mcdonald menjelaskan sebagai sesuatu yang alami bagi filosofi “nietzschean” yang dimiliki Machiavelli. Mcdonald menceritakan bagaimana filosofi ini muncul lebih jelas dalam buku the discourses. Di dalam buku itu Machiavelli mengatakan bahwa aturan kehidupan mendominasi atau didominasi ambil atau tinggalkan tapi atas nama roma tolong jangan tidak bermoral tentang itu.
Menurut saya sangat sulit untuk mendifiniskan bahwa N Machiavelli adalah jahat karena pandangan – pandangannya tentang moralitas di karangan selanjutnya (Discourses) sangat berbeda dengan il principe, yang perlu dilakukan adalah mengambil hal positif dari buku il principe dari membaca buku ini kita akan mengetahui bagaimana cara berfikir dan tindakan para dictator, sehingga kita lebih faham logika – logika piker yang mereka gunakan, dengan itu kita lebih waspada dan juga semakin faham bagaimana mencegah Negara bangsa kita jatuh kembali ketangan para machiavellis.
Komentar
Posting Komentar